News: The Art of “Batik”





Filosofi Batik / Philosophy of Batik

“Wahyu Tumurun”
Diharapkan pemakainya selalu mendapatkan petunjuk dalam menghadapi kehidupan oleh Allah Yang Maha Kuasa. It is expected that users always get a hint in the face of life by Almighty God.
“Tambal”
Tambal berarti memperbaiki atau menambah, sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Ada kepercayaan bahwa orang yang sakit bila diselimuti batik ini akan lekas sembuh. "Tambal" means fix or add, so it can be reused. There is a belief that people are sick when enveloped in this batik will heal quickly.
“Udan Liris”
Udan liris berarti hujan gerimis, merupakan simbol kesuburan. "Udan Liris" meaning drizzle, a symbol of fertility.
“Nitik”
Diharapkan pemakai kain motif ini menjadi orang yang bijaksana. It is expected that users of this motif into the wise people.
“Sido Mulyo”
Bermakna dharma, kemakmuran, dan melindungi buminya. Meaningful as dharma, prosperity, and protect the earth.
“Ceplok Kasatrian”
Pemakai batik ini diharapkan agar terlihat gagah dan memiliki sifat kesatria. The user of this Batik is expected to look dashing and have chivalry.
“Kawung”
Kain ini dipakai oleh Raja dan keluarga dekatnya, sebagai lambing keadilan dan keperkasaan, empat bulatan dengan sebuah titik pusat melambangkan Raja didampingi pembantunya. This fabric worn by the King and his immediate family, as a symbol of justice and courage, four spheres with a central point symbolizing the King, accompanied by his aides.
“Sido Mukti”
Dipakai oleh pengantin dalam upacara pernikahan, Sido berarti terus menerus. Mukti berarti kecukupan dan penuh kebahagiaan diharapkan pengantin yang memakai batik ini kelak akan bahagia dan sejahtera. Worn by the bride in the wedding ceremony, Sido means continuously. Mukti means adequacy and expected blissful bride who wears this batik will be happy and prosperous future.
“Truntum”
Kain ini dipakai oleh orang tua pengantin dalam upacara pernikahan. Truntum berarti menuntun, diharapkna si pemakai / orang tua mempelai mampu m emberikan petunjuk dan contoh kepada putra putrinya untuk memasuki kehidupan baru berumah tangga yang penuh liku-liku. This fabric is used by the parents of the bride in the wedding ceremony. Truntum means lead, diharapkna wearer / groom parents were able'm emberikan instructions and examples to the son of his daughter to settle down into a new life full of twists and turns.
“Parang”
Parang berarti senjata, menggambarkan kekuasaan, kekuatan, dan kecepatan gerak. Parang means weapon, depicting power, strength, and speed of movement. 
“Ciptoning”
Diharapkan pemakainya menjadi orang yang bijak, mampu memberikan petunjuk tentang keluhuran budi dan jalan yang benar untuk mengharapkan Yang Maha Kuasa. It is expected that the wearer becomes a wise man, able to provide clues about the magnanimity and true path to expect the Almighty. 
“Sido Mulyo Semen”
Sido berarti terus menerus, sedangkan Mulyo berarti kecukupan dan kemakmuran. Diharapkan yang memakai batik ini diberikan kecukupan dan kemakmuran. Sido means continuously, whereas the mean Mulyo sufficiency and prosperity. It is expected that wearing this batik given sufficiency and prosperity

Tatacara Pembatikan / Batik Procedure

“Nglowong”
Melukis dengan lilin / malam menggunakan canting mengikuti pola pada kedua sisi, bolak balik. Painting with wax use canting follow the pattern on both sides, back and forth
“Nembok”
Menutup bagian-bagian pola yang akan dibiarkan terang berwarna putih dengan lilin batik. Closing the pattern parts that will be left bright white with wax.
“Medel”
Mencelup motif yang sudah diberi lilin batik kedalam warna biru. Motifs that have been given a dye batik wax into the blue.
“Ngerok”
Menghilangkan lilin dari bagian-bagian yang akan diberikan warna sogo (coklat). Remove wax from the parts that will be given sogo color (brown).
“Mbironi”
Menutup bagian-bagian yang akan tetap berwarna biru dan tempat-tempat yang terdapat cecek. Closing the parts that will remain blue and places contained dot.
“Nyogo”
Mencelup kain mori ke dalam sogo. Dyeing cloth into sogo.
“Nglorot”
Menghilangkan lilin batik dengan air mendidih. Tahap ini sekaligus merupakan tahap akhir proses batik tradisional. Remove wax batik with boiling water. This stage is the final stage at the same time the traditional batik process.

Tips Merawat batik / Tips on Caring for Batik

Kain batik akan lebih awet jika sering dikeluarkan dari lemari untuk diangin-anginkan agar terhindar dari jamur.
  1. Gunakan “Lerak” untuk mencuci batik dengan cara mencampurkan lerak dalam air hangat kuku, kemudian rendam kain batik tersebut.
  2. Batik dapt juga dicuci dengan “Daun Dilem” yang dapt juga berfungsi seperti lerak dan mencegah binatang-binatang kecil yang merusak jaringan kain.
  3. Setelah dicuci kain batik diangin-anginkan ditempat yang teduh, jangan dijemur langsung dibawah sinar matahari karena akan merusak warna batik.
  4. Jemur kanin batik secara rapi agar bila kering tidak perlu disetrika.
  5. Kain batik juga dapat di “ratus” dengan cara diasapi dengan dupa ratus selama 1-3 jam. Fungsi ratus untuk memberikan aroma wangi pada kain batik.
  6. Kain yang sudah kering dapat disimpan dalam almari yang telah diberi seikat akar wangi.
Batik fabric will be more durable if often excluded from the closet to be aerated to avoid mildew.
  1. Use the "Lerak" to wash batik, lerak by mixing in lukewarm water, then soak the batik cloth. 
  2. Batik can also be washed with "Leaves glued" that can also function as lerak and prevent small animals that destroy tissue fabric.
  3. After washing batik cloth aerated shady place, do not be dried directly under the sun because it will damage the color of batik.
  4. Drying batik cloth neatly so that when it does not need to be ironed dry.
  5. Batik cloth can also be in "ratus" with smoked with incense hundred for 1-3 hours. Function ratus to give the scent of batik cloth. 
  6. Cloth that is dry can be stored in a closet that has been given a bundle of vetiver. 

    Tips Merawat Batik Warna Alam / Tips on Caring for Natural Color Batik

    1. Agar warna alami kain batik bias tahan lama, jangan mencuci kain batik dengan mesin cuci.
    2. Gunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik.
    3. Sebaiknya tidak menjemur kain dibawah sinar matahari secara langsung.
    4. Dalam menyetrika, jangan terlalu panas, atau lapisi dengan kertas.
    5. Untuk kain batik sutera, jangan langsung terkena parfum atau pewangi.
    Atikel ini Saya Tulis karena Saya ikut senang setelah diresmikannya bahwa Batik telah dinyatakan sebagai "The Heritage of Indonesia".
    So that the natural color of batik cloth can last longer, do not wash batik cloth with washing machine. 
    1. Use the special detergent for batik cloth. 
    2. Should not drying cloth under direct sunlight.
    3. In ironing, not too hot, or cover with paper.
    4. For silk batik cloth, not directly exposed to perfume or fragrances.
    This Atikel I Write because I was happy after the inauguration that Batik has been declared as "The Heritage of Indonesia".