News : Modus Warga Asing Kuasai Lahan Pantai di Pacitan (Part 2)




Sebuah cuplikan berita dari TribunNews.com
Belasan resort, cottage, bungalow dan penginapan menghiasi sepanjang pantai Watukarung Pacitan. Bangunan-bangunan itu umumnya berarsitektur Jawa. Atap limas menjadi ciri paling mencolok.

Namun siapa sangka, resor-resor itu ternyata semuanya milik warga asing. Penginapan milik warga asing muncul satu persatu sejak 2010 lalu. Hanya dalam waktu tiga tahun, pantai dan tanah-tanah di sekitarnya sekarang ini dikuasai warga asing.


Kepala Desa Watukarung, Wiwid Peni Dwiantari mengungkapkan, transaksi jual beli tanah di Pantai Watukarung umumnya tidak menggunakan nama pemodal asing tersebut.



Dalam akta jual beli dan pelepasan hak tanah, yang tertera adalah nama warga negara Indonesia (WNI) alias warga lokal. Langkah ini memang paling mungkin untuk menghindari aturan yang melarang warga asing membeli atau menguasai tanah di negeri ini.

WNI dalam akta jual beli tanah tersebut ada yang tertulis berstatus istri, saudara atau kerabat dekat istrinya. Wiwid menyontohkan, ada pengusaha asal Singapura yang membeli tanah atas nama orang Indonesia bernama Indri. “Jual belinya pakai nama Indri ini,” ungkapnya.

Ada juga warga asing jual beli tanahnya atas nama Slamet Wahyuni yang punya nama panggilan Shela. “Kami tidak tahu status Shela ini istri atau kerabatnya,” jelasnya.

Transaksi jual beli itu sendiri dilakukan di notaris dan PPAT (pejabat pembuat akte tanah). Pihak kelurahan kebagian memberikan layanan berupa kelengkapan dokumen, misalnya surat riwayat tanah dan surat keterangan tidak bermasalah (berkasus).

Pemakaian nama orang Indonesia untuk proses jual beli tanah ini mirip dengan kasus serupa di Bali. Saat booming wisatawan banyak warga asing yang membeli tanah di Bali diatasnamakan orang Indonesia. Tanah-tanah tersebut kebanyakan dipakai untuk hotel, cottage atau art shop.

Kejadian mirip di Bali ini sekarang kembali terulang di Pacitan, apalagi sebagian besar warga asing itu juga mengelola usaha wisata di Bali. Mesti perpindahan tanah itu sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu, namun hingga kini belum ada yang didaftarkan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pacitan.

“Dari data yang kami miliki belum ada satupun jual beli tanah di kawasan Pantai Watukarung yang didaftarkan untuk disertifikatkan,” ungkap Santoso Kabag TU Kantor BPN Pacitan kepada Surya.

Menurut Santoso, pembeli asing tidak akan mendapatkan tanah hak milik tapi hanya hak pakai. Itupun akan dibatasi selama 10 tahun. Itu sebabnya, banyak pembelian yang kemudian atas nama warga lokal.

Ditambahkannya, tanah kawasan pantai itu sebelumnya merupakan tanah negara yang kemudian dimohonkan haknya oleh warga setempat. Kini tanah-tanah itu dipindahkan pada orang asing.